Tobat Nyoblos

Published by

on

Judul posting ini bisa multitafsir; bisa berarti kapok nyoblos, bisa juga dipakai untuk menunjukkan sekuensi, habis tobat njuk nyoblos; bisa juga diartikan jika tobat maka nyoblos dan bukannya golput. Yang jelas, dalam blog ini, tobat lebih dari sekadar kapok; tobat dan nyoblos ada hubungannya (bukan sekadar rentetan waktu); tetapi hubungannya tidak harus searah (jika tobat maka harus nyoblos; bisa jadi sebaliknya juga, jika nyoblos harus tobat).

Semuanya bisa berlaku untuk saya. Pertama, saya sudah nyoblos komplet dengan tinta di ujung kelingking sehingga saya tak berminat nyoblos lagi. Kedua, di urutan ibadat tadi pagi memang tobat dulu baru nyoblos. Ketiga, tobat itu perkara terlibat dalam proyek Allah.

Yang pertama gampang dimengerti. Yang kedua menyisakan pertanyaan: emangnya di ibadat pagi ada upacara nyoblosnya? Yang ketiga mengandaikan bahwa proyek Allah itu ada di dunia ini, sekarang dan di sini, lewat apa yang bisa kita kerjakan dengan kaidah-kaidah moral dan etika. Jika modal yang terakhir ini dilanggar, tidak ada gunanya membawa-bawa keyakinan religius karena itu tak lebih dari penistaan agama oleh pelanggar etika.

Kalau begitu, saya bahas yang kedua saja, yang menyisakan tanya soal ibadat. Tentu, tak ada ibadat coblosan di hari Rabu Abu, hanya ada taburan atau polesan abu di kepala atau dahi, supaya manusia eling dari debu kembali ke debu. Sebelum acara penerimaan abu itu, ada kutipan-kutipan kitab suci dulu dong, bukan sebagai jampi-jampi, melainkan sebagai inspirasi bagi penerimaan abu dan konsekuensinya jika orang mengamininya.

Sudah ada delapan posting tahun-tahun lalu, yang saya tak akan mengulanginya. Tahun ini, saya lebih terpukau pada saran Yesus untuk menghindari riyā’, yang sudah saya singgung pada posting Bukan Riang Riyā’. Keterpukauan ini bukan tanpa alasan, dan alasan itu terpantik oleh kisah-kisah pilu para korban pemberi harapan palsu, atau, menurut saya, lebih tepatnya pemberi janji palsu. Anda masih ingat cerita-cerita kecil bagaimana anak gadis terkuras hartanya gara-gara menaruh percaya kepada cowok tampan berpakaian elegan, orang tuanya pun terpukau lantaran cowok ini sangat tampak bermoral dengan tutur kata dan kesopanannya. Betul, dia tampak bermoral, etiketnya bagus (seperti tempelan pada kemasan produk yang eye catching), tapi tak punya etika.

Tak mengherankan bahwa Yesus ini mewanti-wanti secara keras murid-muridnya belakangan ini: hati-hati dengan ragi orang Farisi dan kaum Herodian. Tentu maksudnya adalah para murid mesti hati-hati dengan para oligark yang tampilannya mulus bahkan meskipun belum operasi plastik. Hari ini, dia mengingatkan kembali mengapa diperlukan kehati-hatian: karena orang cenderung memamerkan kepada tangan kiri apa yang dibuat tangan kanannya, karena orang cenderung berkoar-koar mengenai cintanya, mengenai ketulusannya, mengenai keyakinannya kepada Tuhan, mengenai doa, dan seterusnya.

Sudah hati-hati saja orang bisa tertipu, gimana orang gak berhati-hati? Ya sejarah bisa terulang: alih-alih memilih Yesus, orang lebih memilih Barabas, yang jelas-jelas bukan pemimpin alternatif. Kata orang Jawa: wang sinawang. Klop, bukan? Predatornya menyodorkan janji manis dengan imajinasi gratis, korbannya memakai kaidah wang sinawang.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami semakin mampu membedakan penampakan dari apa yang ditampakkannya. Amin. 


HARI RABU ABU
14 Februari 2024

Yl 2,12-18
2Kor 5,20-6,2
Mat 6,1-6.16-18

Posting 2021: Sedekah Iman
Posting 2020: Waspada Saja, Tong!
Posting 2019: Puasa Kampanye

Posting 2018: Puasa dari Valentine

Posting 2017: Come Back to Me

Posting 2016: Tobat, Bos!
 

Posting
2015: Grow up, Brow!

Posting 2014: Solidarity with The Father

Previous Post
Next Post