Sebutlah namanya begitu, mirip nama pemain bal-balan alias sepakbola Argentina, tapi tak usahlah mengucapkannya dengan gaya Spanyol (akhel di M) atau Inggris (ènjêl di M). Mungkin lebih baik dilafalkan dengan gaya Jawa.
Angèl ini petani subsisten, yaitu petani swasembada, yang bercocok tanam pertama-tama untuk kebutuhan hidup dirinya sendiri dan keluarga. Betul, Angèl ini memproduksi pupuk sendiri dari ternak sapinya dan bahkan punya bibit padi yang dikembangkan secara mandiri. Sesuai dengan label swasembada, Angèl tidak bercita-cita menjadi pelaku agroindustri yang bisa memasok kebutuhan bisnis pangan. Dengan kemampuan dan keuletannya untuk budi daya tanaman pangan, Angèl hidup bersahaja atau mungkin lebih tepat pas-pasan. Sewaktu anaknya butuh motor, ia pas gak punya uang. Pas ia punya uang, anaknya gak butuh motor lagi.
Hidup Angèl ini sungguh berbeda jauh dari sosok artis yang belakangan terseret namanya karena kasus suaminya yang bermain dengan timah dan ratusan trilyun rupiah masuk ke lingkaran dekat artis ini; mungkin termasuk gereja tempat mereka married. Entahlah. Mungkin kalau ada artis meminta pemberkatan perkawinan, pihak gereja perlu bikin surat pernyataan bahwa uang yang mereka pakai untuk administrasi tidak berasal dari korupsi, kolusi, dan nepotisme; risikonya, tak ada lagi artis yang meminta pemberkatan perkawinan ke gereja, wkwkwkwk.
Yang sempat lewat di benak saya ialah pertanyaan: bukankah permainan yang merugikan negara ratusan trilyun itu berlangsungnya tidak dalam hitungan sebulan atau setahun? Ha kok baru sekarang diperkarakan?
Oh, itu gampang, Mo, penjelasannya. Kan Romo sendiri sudah bahas perkara kongkalikong politik dan bisnis di Capitalocene. Juga sepertinya sudah singgung soal state capture di posting Cooling System. Nah, dalam atmosfer seperti itu, hukum akan berlaku tebang pilih.
Oooo, jadi sebetulnya praktik pengemplangan itu sudah lama tapi dibiarkan karena penguasa tak berkepentingan gitu ya?
Itu sangat mungkin, Mo. Apalagi ini kan tahun politik. The winner takes it all, kata ABBA.
Oooo, jadi suami artis ini bukan pendukung 05 ya?
Ya jelas bukan, Mo. Pendukung 05 gak ikut-ikutan pengemplangan itu, tapi begitu 05 menang, habislah mereka.
Oooo, itu makanya sebelum suami artis ini tertangkap, ada orang lain di lingkaran itu ditangkap ya?
Betul, Mo.
Hmmm, jadi bertanya-tanya lagi, sebetulnya mereka ngemplang-ngemplang tuh ya untuk apa, jal?
Nah, kalo itu kan Romo dah bolak-balik singgung perkara wang sinawang.
Nah, jadi inget dulu pernah ke warung karena reviewnya hampir maksimal, dan ternyata untuk sampai ke tempatnya pun sudah mesti bolak-balik dan setibanya di warung itu, pelayanannya biasa saja dan yang jelas rasanya mak plekenyik, jauh banget dari kata mirasa. Bisa jadi reviewernya keluarga sendiri atau sekurang-kurangnya pendukungnya sendiri. Ujung-ujungnya, tanpa kejujuran, menaikkan review dan rating hanyalah merendahkan mutu.
Di tengah tren wang sinawang dan kebiasaan ngemplang, apa yang dihidupi oleh Angèl di M tadi memang angèl diMengerti, dan begitulah juga misteri perayaan Kamis Putih. Tampaknya susah sekali menjadi kado dengan jalan kejujuran, menampilkan cinta yang autentik, apa adanya, juga karena begitulah yang diteladankan para nabi. Mungkin jauh lebih banyak orang yang lebih gemar mengemis (mengemplang secara manis dengan mulut lamis bin tak jujur) daripada bekerja untuk mengaktualkan diri sebagai kado.
Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin tulus menghidupi cinta-Mu. Amin.
HARI KAMIS PUTIH
28 Maret 2024
Kel 12,1-8.11-14
1Kor 11,23-26
Yoh 13,1-15
Posting 2023: Ganjar[an]
Posting 2022: Tanpa Syarat
Posting 2020: Wajah Allah
Posting 2019: Mbok Sudahlah, Wo’
Posting 2018: Bukan (Cuma) Merendah
Posting 2017: Pemimpin Retorik Doang?
Posting 2016: Krisis Bahasa Cinta
Posting 2015: Faith in The Dark
Posting 2014: Kamis Putih: Perayaan Cinta
