Waktu tidak pernah menyelesaikan masalah kecuali bagi mereka yang malas berolah pikir dan bertindak serta orang putus asa. “Waktu akan membuktikan” menjadi refren bagi orang-orang ini meskipun mereka tidak sedang uji coba di laboratorium kimia atau fisika. Bisa dimengerti, kehidupan ini begitu kompleks, terlalu banyak variabel kemungkinannya sehingga sangat sulitlah memikirkannya tanpa bantuan Artificial Intelligence. Ini juga salah satu topik perbincangan di dunia akademik belakangan ini.
Meskipun menggunakannya, saya tidak begitu terpukau pada perkembangannya, yang sungguh begitu cepat mengubah peri kehidupan. Saya tetap lebih kepincut pada epistemic intelligence. [Nah, bahkan istilah ini juga saya dapat dari aplikasi AI.] Inteligensia ini terhubung dengan epistemic humility yang, menurut saya, memungkinkan Anda dan saya lebih elok jadi manusia. Akan tetapi, abaikanlah istilah ini dan mari lihat bagaimana pengalaman Yesus dari Nazareth [yang bisa diparalelkan juga dengan pengalaman Nabi Muhammad] dapat menjadi petunyuk betapa sulitnya merengkuh inteligensia jenis ini.
Teks bacaan utama hari ini masih bergumul dengan identitas Yesus yang jadi pokok perseteruan dengan orang-orang Yahudi [untuk kesekian kalinya: tidak merujuk etnis Yahudi, tetapi pada sikap yang jelas menolak status teologis Yesus sebagai Mesias]. Latar belakang historis teks ini cukup jelas: orang Kristen dan orang Yahudi bersitegang soal bagaimana mengetahui kehadiran Mesias. Orang-orang Yahudi ngotot bahwa Mesias itu tidak mungkin asal-usulnya diketahui. Padahal, si Yesus ini kan asal-usulnya jelas, keluarganya juga diketahui dari mana asalnya.
Jemaat penulis teks Yohanes, menurut saya, punya epistemic intelligence itu: lokasi Yesus dari Nazareth tidak relevan karena klaim utusan Allah tidak berasal dari lokasi geografis, tetapi dari relasi dengan Allah sendiri. Mana mungkin relasi dengan Allah dipikirkan dengan kategori ruang-waktu, bukan? Di situ, dibutuhkan epistemic humility yang membuat orang tidak lagi bisa mengandalkan baik spekulasi maupun ilmu empiris belaka, tetapi juga iman yang meruntuhkan tendensi status quo. Karena yang terakhir ini tak ada dalam diri orang-orang Yahudi, menerima Yesus sebagai utusan Allah adalah nonsense. Ha ya wis ta, arep ngapa maneh?
Menerima Yesus sebagai utusan Allah memang seperti bertaruh dengan menelanjangi diri dari kepentingan-kepentingan politis yang bermuara pada pemuliaan diri sendiri, suku sendiri, kelompok sendiri, gereja sendiri, atau agama sendiri. Basisnya bukan lagi tanda atau mukjizat yang dibuatnya, melainkan kata-kata dan hidupnya yang menegaskan relasi intimnya dengan Allah.
Semoga Anda dan saya berkembang dalam epistemic intelligence yang menuntut kerendahhatian sebagai makhluk ciptaan-Nya. Amin.
HARI JUMAT PRAPASKA IV
4 April 2025
Keb 2,1a.12-22
Yoh 7,1-2.10.25-30
Posting 2020: Bukan Akhir Segalanya
Posting 2019: Diam-diam Manusia
Posting 2018: Jangan Sia-siakan Cinta
Posting 2017: 313: Untung Buntung
Posting 2016: Gajahlah Kebersihan
Posting 2015: Yakin Percaya Tuhan?
Posting 2014: Dekat di Mata, Jauh di Hati
