No Kings

Published by

on

Mungkinkah orang memperoleh kekuasaan tanpa kekuatan politik?
Jawabannya: mungkin tidak.
Alasannya: bergantung pada konsep kekuasaannya. Kalau kekuasaan itu didefinisikan sebagai dominasi, ia tidak bisa diperoleh tanpa kekuatan politik. Sebaliknya, jika kekuasaan itu dimengerti sebagai manifestasi suara hati, ia bisa diperoleh tanpa kekuatan politik. Kekuasaan ini hanyalah ajang cinta, tanpa dominasi, tanpa kondisi, tanpa ‘tetapi’, tanpa politisi, tanpa amunisi, tanpa polusi, tanpa polisi, tanpa basa-basi, dan seterusnya yang berbau modus taktik atau strategi.

Konon, beberapa abad sebelum Kristus lahir, di daratan Cina mulai dibangun tembok pemersatu kekaisaran Cina pada masa Kaisar Qin. Butuh tiga abad untuk membangun tembok 6.000-an kilometer berketinggian 6 meter dengan ketebalan lebih dari lima meter. Intensi Kaisar jelas: supaya dominasinya tak dirongrong pihak aseng. Tampaknya, upaya itu berjalan seperti rencana pada abad pertama setelah Tembok Cina selesai dibangun. Sayangnya, dominasi itu runtuh juga. Bukan karena temboknya bernasib seperti Tembok Berlin, melainkan karena ada kekuatan lain yang merusak ketegaran penjaga tembok: orang-orang Mongolia menyuap penjaga-penjaga tembok, dan kekuatan aseng masuk.

Lha, berarti suap itu jadi kekuatan politik, kan, Rom?
Betul sekali, dan justru dalam arti itulah kekuasaan dimengerti oleh Pilatus dan orang-orang Yahudi pada umumnya: kekuasaan yang dibangun di atas dominasi terhadap yang lain. Pilatus tak pernah paham apa artinya kerajaan Allah. Ia hanya tahu kerajaan yang dibangun oleh Kaisar Tiberius, sebuah kerajaan yang oleh Yesus tidak dianggap sebagai kerajaan yang sesungguhnya. Itu hanyalah kerajaan yang dibangun dari logika rebutan sumber daya dan persaingan teknologi canggih dengan menempatkan Allah seperti ban cadangan. Dia bukan sosok utama. Sebisa mungkin jangan sampai menggunakannya. Lha wong cadangan. 
Sayangnya, begitulah kebanyakan orang beragama bersikap. Ritual jalan terus, tetapi keyakinan tauhid, realisasi kerajaan Allah, terabaikan oleh kultur dominasi.

Masih ada secercah harapan. Sayup-sayup, muncul kesadaran dari orang-orang di luar kekuasaan: No kings! Mungkin ada juga kesadaran dari lingkaran kekuasaan, ketika persaudaraan diporak-porandakan oleh dominasi asing di kawasannya. Andai saja Pilatus menangkap ini, sejarah mungkin bergerak berbeda, tetapi itu berarti tiada salib juga. Bayangkan, apa jadinya jika Yesus mati dirajam sesuai hukum Yahudi, seperti hukuman yang diberikan otoritas agama kepada Stefanus.

Mungkin, begitulah peran pemegang kekuasaan agama Yahudi saat itu: mereka menginginkan hukuman terburuk yang pernah ada, mati di kayu salib, bukan saja karena itu hukuman terkeji yang dilakukan kekaisaran Romawi, melainkan juga karena dalam tradisi Yahudi, mati di tiang (kayu/pohon) itu adalah pertanda jelas bahwa Yesus dikutuk Allah (bdk. Ul 21:23).

Penutup ceritanya juga jelas: tidak ada perang, tidak ada raja baru ala Pilatus. Hanya ada raja yang kekuasaannya dibangun atas keyakinan tauhid demi keadilan sosial. Begitulah ujung cinta paripurna. 


HARI JUMAT SUCI
3 April 2026

Yes 52,13-53,12
Ibr 4,14-16;5,7-9
Yoh 18,1-19,42

Posting 2025: Di Hati Akuh
Posting 2023: Nendang
Posting 2022: Aku Bukan Yesus
Posting 2020: Membajak Agama
Posting 2019: Dua Presiden

Posting 2018: Tuhan Hanya Butuh Dilan

Posting 2017: Kingdom of Conscience

Posting 2016: Jumat Suci: Keheningan Cinta

Posting 2015: A Faith that Never Dies

Posting 2014: Good Friday: The Turning Point

No Comment

Previous Post