Sukacita Dong

Barangkali, seperti dikatakan penyair Paul Claudel (macané piyé ta iki?), nous n’avons pas d’autre devoir que la joie! Terjemahannya: noi non abbiamo altro dovere che la goia #halahapabedanyaRom! Lha wong zaman mbah gugel gituloh, mau pakai bahasa apa coba? Indonesia! Oke: Kita tidak memiliki kewajiban selain sukacita!

Loh, gimana mungkin, Rom, mosok sukacita jadi kewajiban? Mana bisa orang mewajibkan atau diwajibkan untuk bersukacita? Ada juga orang bilang,”Jangan sedih ya! Kamu gak boleh sedih!”
Ah, gak juga. Ada orang yang bilang,”Tetap ceria ya, tetap bahagia!” Tapi, kalaupun itu tidak umum, anjuran untuk tidak bersedih itu maksudnya apa kalau bukan untuk menghibur orang lain? Apa artinya hiburan kalau tidak membawa konsolasi? Pada kenyataannya, tak sedikit orang yang lupa bahwa kebahagiaan itu sudah ada pada tempatnya dan mereka lupa tempatnya.

Saya bukannya mau membela Paul Claudel, tetapi memang ungkapannya itu bisa jadi pengingat bahwa sukacita itu adalah tolok ukur hidup orang. Dalam bahasa pembedaan roh tentu saja sukacita itu berarti konsolasi: orang tetap bisa merasa sedih, kecewa, sakit, tetapi kalau iman, harapan, dan cintanya kepada Sumber Kegembiraan itu memang meningkat, aneka perasaan itu tak mengurangi sukacitanya dan sukacita jenis ini tidak mungkin manipulatif. Maka dari itu, sukacita ini sifatnya ‘wajib’. Dari mana penggolongan wajib ini?

Dalam teks bacaan hari ini disodorkan dua landasan: (1) menuruti perintah Tuhan (yang artinya hidup seturut proyek keselamatan Allah bagi semua), dan yang sebetulnya identik dengan itu (2) merealisasikan secara konkret markisa kemarin, yaitu kesatuan dengan-Nya alias tinggal dalam cinta-Nya. Lha kalau dua hal ini disadari orang beriman, mau tak mau, buahnya adalah sukacita. Dengan kata lain, sukacita yang diwajibkan itu adalah sukacita dalam tindakan orang untuk tinggal dalam cinta-Nya, untuk hidup menurut kehendak-Nya, yang terus menerus perlu dicari orang juga dalam perjumpaannya dengan sesama.

Mengenai poin pertama tadi saya ingat apa yang dituliskan oleh seorang pendeta asli Indonesia, meskipun dalam dirinya mengalir darah Tionghoa, Eka Darmaputera: something which is good only for Christians is un-Christian.
Itu adalah paradoks yang berlaku untuk semua agama; tinggal ganti saja Kristen dengan Islam, Yahudi, Hindu, Buddha, dan lain-lainnya. Itu hanya ungkapan yang akhirnya menyokong harapan setiap agama untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin. Semua agama punya klaim keselamatan yang sifatnya inklusif bagi semua, tetapi eksklusif terhadap mereka yang tak mau menerimanya.

Bukan agamanya yang eksklusif, melainkan orang-orangnya, yang terpaku pada agamanya sendiri. Orang-orang begini ini tak bisa berdoa supaya seluruh makhluk berbahagia. Yang dihidupinya adalah keyakinan eksklusif bahwa hanya dirinya dan kelompoknyalah yang mendapat rahasia surga, rahasia penampakan, rahasia kebangkitan, dan rahasia-rahasia ilahi lainnya. Orang di luar kelompoknya ya biar nanti tanggung sendiri akibatnya. Dalam diri orang seperti ini, sukacitanya semu dan di kepalanya sudah terang dikotomi ‘kita-mereka’ berdasarkan agama. Itu mengapa masih saja otak kerusuhan membenturkan pemerintah dan aparat keamanan pada identitas agama #eh. Gimana mau sukacita hidupnya ya?

Ya Tuhan, berilah kami rahmat sukacita sebagai buah kami membangun kebersamaan hidup demi proyek keselamatan-Mu bagi semua. Amin.


KAMIS PASKA V
23 Mei 2019

Kis 15,7-21
Yoh 15,9-11

Posting 2018: Oh Pengemis Cinta
Posting 2017: Wajah Baru Allah

Posting 2016: Panama Pampers

Posting 2015: I’m Happy ‘Full’

Posting 2014: Konservatif – Liberal: Creative Fidelity

2 replies

  1. “menjadi seorang religious dewasa ini haruslah menjadi inter-religious”. (aku lupa siapa yg mengutarakannya mungkin paus fransiskus… hehe..)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s