Butuh Ketemu

Saya sadar banyak orang cenderung mengatakan cinta itu jauh dari teori dan kokoh dalam tindakan. Akan tetapi, pada masa krisis ketulusan, tindakan tak bermakna lebih dari pencitraan yang menyusutkan cinta itu sendiri. Ujungnya cinta memang senantiasa adalah tindakan, tetapi pasti bukan sembarang tindakan. Kalau sembarang tindakan adalah manifestasi cinta, teori tak diperlukan lagi karena orang sudah menghidupi apa yang disarankan Augustinus: Love and do whatever you want!

Persoalan yang dilihat teori justru terletak pada kata kerja love itu tadi. Bagaimana orang bisa mengklaim bahwa tindakannya adalah tindakan cinta? Apakah itu malah tidak kontradiktif? Bisakah cinta diklaim? Bukankah Guru dari Nazareth juga sudah memberi nasihat supaya jangan sampai tangan kirimu tahu atas perbuatan baik yang dilakukan tangan kananmu?

Pertanyaan-pertanyaan itu bagi saya adalah pijakan untuk menilik kembali apa yang saya maksudkan dalam posting Kerendahhatian Képologis. Orang yang sungguh hidup dalam cinta justru terbuka pada ujian, bahkan meskipun di luar masa UTS atau UAS (yah nongol lagi). Orang ini tak lagi mengontrol segala-galanya yang menurutnya baik, tetapi membiarkan pihak lain yang mengujinya, apakah tindakannya itu merupakan manifestasi cinta atau sebaliknya. Itu juga yang sepadan dengan saran let’s do our best and God do the rest.

Metafora orang Samaria tidak dipakai Guru dari Nazareth untuk berteori tentang cinta, tetapi menegaskan bahwa menjadi sesama itu diperkokoh oleh tindakan, bukan oleh rasionalisasi. Kalau berhadapan dengan martabat manusia, cinta mesti bersedia menanggalkan rasionalisasi dan mengambil tindakan dalam batas kewajarannya. Lagi, repotnya, siapa yang menentukan batas kewajaran itu? Diri sendiri atau pihak lain? Bukankah imam dan orang Lewi itu juga menimbang tanggapan mereka dengan batas kewajaran seturut pemikiran mereka?

Betul, dan karena itu perlu ditinjau batas-batas kewajaran itu dengan semacam teori. Tidak ditunjukkan rasionalisasi orang Lewi dan imam itu mengapa menurut mereka tidaklah wajar menolong orang sekarat. Akan tetapi, bisa dimengerti bahwa imam dan orang Lewi itu punya tanggung jawab ritual dan mereka memegang betul aneka ketentuan hukum berkenaan dengan tanggung jawab mereka itu. Ketentuan hukum agama bagi mereka bisa jadi lebih tinggi daripada panggilan tindakan karitatif. Mengenai hal ini orang bisa berdebat apakah pendekatan karitatif itu kurang utuh daripada pendekatan struktural (yaitu mereka yang berjuang membangun struktur yang lebih adil, lebih manusiawi, dan seterusnya).

Akan tetapi, metafora itu dengan jelas menunjukkan kata kunci yang membedakan orang Samaria dan orang Lewi serta imamnya: out of compassion. Imam dan orang Lewi barangkali memegang teguh hukum agama baik-baik, tetapi defisit compassion. Defisit ini menodai cara penghayatan hukum agama mereka sendiri. Tanpa compassion, bukan hanya hukum agama, melainkan juga pendekatan struktural benar-benar garing krik3. Celakanya, compassion susah tumbuh manakala orang sibuk dengan proyek-(agama)nya sendiri. Orang zaman ini butuh perjumpaan autentik yang memungkinkan compassion itu tumbuh, bahkan meskipun dia bukan anggota DPR.

Ya Allah, mohon rahmat keterbukaan hati untuk menangkap kehadiran-Mu dalam penderitaan sesama. Amin.


SENIN BIASA XXVII C/1
PW SP Maria , Ratu Rosario
7 Oktober 2019

Yun 1,1-17;2,10
Luk 10,25-37

Senin Biasa XXVII B/2 2018: Cinta Kampret
Senin Biasa XXVII A/1 2017: Mirip Siapakah Anda?
Senin Biasa XXVII C/2 2016: Being Humane

Senin Biasa XXVII B/1 2015: Menjadi Sesama

Senin Biasa XXVII A/2 2014: Orang Samarinda yang Baik Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s