Ayo Lari

Di hadapan corona, relativisme budaya mendapatkan peneguhannya tanpa menyangkal nilai universal kemanusiaan. Anda tidak bisa menilai orang-orang di Trunyan tak berperikemanusiaan lantaran membiarkan jenazah ditaruh begitu saja di bawah pohon. Sebaliknya, orang yang punya kebiasaan kremasi tak bisa menghakimi pemakaman massal akibat Covid-19 sebagai pemakaman tak beradab. Anda tak bisa lagi keukeuh dengan doktrin bahwa jenazah harus dibungkus kain atau dimasukkan peti sebagai satu-satunya cara pemakaman yang direstui Allah. Protokol perlakuan jenazah dari dunia medis jadi tolok ukur, mengatasi tradisi agama. Dengan kata lain, ajaran agama mengenai tetek bengek dunia material tidaklah mutlak.

Yang pantas dipertimbangkan dari ajaran agama bukan lagi aneka tata cara yang berhubungan dengan aneka materi, melainkan roh yang dirujuk oleh penataan itu sendiri. Keterbukaan agama pada protokol medis mengindikasikan bahwa agama memang semestinya mengelola dunia kehidupan, bukan dunia kematian. Maka, fanatisme agama justru kontradiktif dan menegaskan bahwa orang-orangnya sendirilah yang mengalami kematian, meskipun aktif luar biasa bahkan untuk berlomba-lomba melakukan hal yang disebutnya sebagai kebaikan. [Kalau tak hati-hati, berlomba dalam kebaikan bisa jadi mengarah pada riyā’. Ini sudah saya singgung pada posting Suara dari Pinggiran.]

Kisah teks bacaan hari ini menggunakan satu kata yang dipakai berulang untuk beberapa tokohnya: berlari. Ada orang berlari untuk menghindari bahaya, berlomba untuk mendapatkan ganjaran, atau mempercepat perjumpaan yang dikehendaki. Maria Magdalena tentu tidak menghindari bahaya atau sedang ikut lomba lari Yerusalem 10K, tetapi buru-buru ingin menemui para murid Guru dari Nazareth. Ia hendak berkabar soal makam kosong. Petrus dan Yohanes yang mendengarnya juga berlari menuju makam bukan karena ketakutan pada coro di tempat mereka berkumpul, juga bukan untuk latihan maraton yang penyelenggaraannya ditunda karena wabah, melainkan untuk mengalami perjumpaan dengan pribadi yang mereka pikir seharusnya terbelenggu di dunia syeol, dunia kematian.

Saya belum menemukan metafora yang baik untuk menggambarkan peristiwa kebangkitan. Barangkali dalam dunia game ada jenis permainan yang jagoannya berlari dan di tengah jalan ada hambatan yang tak terlihat dan mana kala jagoan ini tak memenuhi syarat, dia terpental kembali ke ke belakang. Hambatan itu adalah dunia kematian. Jagoan yang qualified ialah dia yang berlari dan melewati halangan yang tak terlihat tadi dan dia bisa move on, bisa jadi dengan berubah wujud atau jadi telanjang atau pakaiannya sobek-sobek. Entahlah, pokoknya pribadinya move on, tak berhenti di dunia kematian, tak juga mental kembali ke belakang. Itulah kebangkitan.

Sewaktu lengan saya cedera karena panco, saya serius mempersoalkan eksistensi Allah dan saya selama beberapa waktu tak ambil pusing dengan apa saja yang berbau agama. Doa dan usaha berobat selama berbulan-bulan tak membuahkan hasil. Kalau Dia eksis, harusnya Dia bisa menyembuhkan cedera saya. Faktanya, lengan saya cacat seumur hidup, tetapi seiring waktu merambat, saya merasa iman saya bertambah: juga dalam kondisi cacat itu, saya mengalami kebangkitan karena saya masih dapat menemukan kebahagiaan hidup dalam kerendahhatian. Andaikan saya tak mengalami cacat seumur hidup itu, atau Allah betul membuat mukjizat kesembuhan lengan saya, Dia membiarkan saya hidup dalam arogansi yang justru tak menuntun saya pada kebahagiaan sejati.

Barangkali begitulah yang disebut kebangkitan: orang tak takut pada keterbatasan fisik dan kebahagiaannya tak tertambat pada yang fisik pula. Selamat Paska lagi. Amin.


HARI RAYA PASKA
12 April 2020

Kis 10,34a.37-43
Kol 3,1-4
Yoh 20,1-9

Posting 2019: Paska Sexy Killers
Posting 2018: Tiga Cinta

Posting 2017: Parade Maido

Posting 2016: Bukan Yesus Yang Mati
 
Posting 2015: Selamat Paska, Jangan Lelah

Posting 2014: Bukan Bukti, melainkan Saksi

6 replies

  1. Yang gak boleh itu”lari dari kenyataan”😁. Jadi Romo udah move on ya hehe, semoga kita semua bisa seperti itu: jadi jagoan yg qualified, gak tengok2 terus ke belakang kecuali sebagai bahan retrospeksi buat ke depan yg lebih baik (and at the same time not allow the past to haunt us forever either)🙏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s