Ambisi

Apa jadinya orang yang hidup tanpa ambisi? Mungkin seperti orang tanpa gizi, mau ngapain aja jadi serba lazy. Pada ujung lain, orang bisa sedemikian berambisi sampai jadi obsesi. Ambisi memang berguna sebagai kendaraan passion seseorang, yang bikin passion itu jadi driving force dalam hidupnya. Tanpa ambisi, passion cuma hadir di mulut dan tak diterjemahkan dalam tindakan. Ketiadaan ambisi bikin orang tak bergerak meraih suatu tujuan; lha mau bergerak ke mana, wong tujuannya saja orang tak tahu? Bisakah Anda membayangkan pertandingan sepak bola yang setiap pemainnya sesuka hati menendang bola tak tentu arah? Di mana asiknya melihat permainan basket yang mempertontonkan pemain-pemain lesu: bola masuk keranjang ya syukur, enggak masuk juga gapapa?

Teks bacaan hari ini menyajikan status sebaliknya: bukan tiadanya ambisi, melainkan terkuaknya obsesi. Orang tua mana yang tak ingin anaknya berhasil dalam hidupnya? Orang tua mana yang tak bahagia jika anaknya mencapai prestasi yang dikagumi banyak orang? Kiranya itu adalah kecenderungan yang wajar. Akan tetapi, apa yang dibuat oleh orang tua Rasul Yakobus, yang dipestakan Gereja Katolik hari ini, bukan lagi perkara ambisi orang tua, melainkan perkara obsesi. Indikatornya: intervensi. Ambisi bolehlah dipupuk oleh sang anak, tetapi kalau orang tua intervensi supaya anaknya mendapat kekuasaan seperti diinginkan orang tua, ini sudah melewati ambang obsesi. “Mbok biar anaknya mengusahakan yang terbaik, Bu’, tak usah segitunya.”

Semua orang kudus justru mengerti pemurnian yang perlu mereka jalani, yang dinamikanya berkebalikan dari orientasi mereka. Jalan yang mereka tempuh berbeda juga dari yang dibayangkan orang tua mereka. Ini tidak hanya menimpa Yakobus dan ibunya, tetapi juga generasi selanjutnya ketika jabatan keagamaan menjadi sangat prestisius dan politis pula. Tak sedikit orang tua yang memaksa anak mereka menjadi ahli hukum atau ksatria atau pejabat dalam pemerintahan. Targetnya apa lagi kalau bukan kedudukan penting yang diidam-idamkan banyak orang?

Menariknya, Guru dari Nazareth tidak memupuskan ambisi seperti ini, tetapi memurnikannya supaya tidak jadi obsesi. Jalan pemurnian itu tidak menggunakan terminologi cinta, tetapi kerendahhatian. Dalam blog ini sudah saya ulas tiga model kerendahhatian, yang meskipun bertingkat, merupakan tipologi dinamika penghayatan iman secara rendah hati. Kerendahhatian pertama ada pada tautan ini, yang kedua ada di sini, dan ketiga pada link ini. Tidak semua orang terdisposisikan untuk tingkat kerendahhatian ketiga, meskipun dipanggil ke arah sana: lha iya coba berapa gelintir dan siapa jal yang mau dengan sengaja memilih sakit daripada sehat? Manusia mana yang dengan sadar mau memilih menjadi pelayan daripada yang dilayani? Siapa pula yang dengan keikhlasannya memilih hidup miskin daripada hidup bergelimangan harta?

Lha ya romo-romo, biarawan-biarawati itu toh?
Oh, kalau mereka itu sih karena emang gak bisa jadi bos, tak terampil cari duit, gak laku jadi artis.🤣🤣🤣
Tentu saya bercanda, tetapi saya juga serius: kerendahhatian sebagai pemurnian berlaku juga bagi mereka. Bisa jadi ambisi mereka pun berubah jadi obsesi, dan di situ absenlah kehidupan nan rendah hati.

Tuhan, ajarilah kami memurnikan hidup kami dalam kerendahhatian. Amin.


PESTA SANTO YAKOBUS RASUL
(Sabtu Biasa XVI A/2)
25 Juli 2020

2Kor 4,7-15
Mat 20,20-28

Posting 2018: Kali Item Mambu
Posting 2017: Bumi Kita Sama
Posting 2016: Adakah Iman Selebriti?

Posting 2015: Merasa Bisa, Tak Bisa Merasa

Posting 2014: Jabatan = Pelayanan

3 replies

  1. 🤔just curious. apakah ada mns (real person) yg punya kesanggupan selalu melayani atau hrs ada “saling”, rm, supaya tdk exhausted atau psikologi terkorup. atau (sec praktek dan teori) mmg ada mns yg sanggup melayani setiap waktu😨, apakah itu sehat?🤭

    Like

    • Selalu melayani tak perlu dimengerti sebagai 24 jam nonstop melayani seorang diri, bukan? Ini adalah soal pilihan atau orientasi dasarnya. Maka, tentu ada orang-orang yang sanggup melayani setiap waktu tanpa exhausted. Kalau tidak, mestinya undangan itu tak berlaku.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s